We Were Assigned, Then We Stayed
Synopsis
Aku tumbuh dalam keluarga yang tidak terbiasa menunjukkan perhatian atau memberikan validasi. Mungkin karena itu, aku sering merasa suaraku tidak terlalu penting, kehadiranku mudah terlewat, dan aku terbiasa dengan perasaan ditinggalkan atau dilupakan.
Lalu aku sampai di tempat ini.
Di antara orang-orang yang sebelumnya adalah orang asing, aku justru menemukan sesuatu yang selama ini terasa asing bagiku: diterima. Kalian mendengarkan saat aku berbicara, merespons saat aku bercerita, mengajakku ikut tertawa, dan tanpa sadar membuatku merasa bahwa kehadiranku berarti.
Terima kasih, karena di bab ini, untuk pertama kalinya setelah sekian lama, aku merasa dirangkul apa adanya.
Ada masa ketika aku berpikir bahwa menjadi "tidak terlihat" adalah hal yang biasa. Aku tumbuh tanpa banyak pelukan, tanpa banyak kata-kata yang meyakinkan bahwa aku sudah cukup. Perhatian terasa seperti sesuatu yang harus diperebutkan, sementara validasi adalah kemewahan yang jarang mampir. Lama-kelamaan, aku belajar untuk tidak berharap. Aku membiasakan diri dengan sunyi, dengan pesan yang tak dibalas, dengan perasaan bahwa jika suatu hari aku pergi, mungkin tidak akan banyak yang menyadarinya.
